Berbagi Informasi Penting Di Sekitar Anda

Sabtu, 23 Februari 2019

Analogi sederhana untuk yang nyinyir soal utang

Tadi pagi (09.00 - 11.00) di kelas saya (S2) pada mata kuliah ekonomi makro, seorang mahasiswa bertanya kepada saya tapi lebih tepat jika saya katakan bahwa dia menyampaikan protes tentang utang pemerintah yang katanya cukup besar saat ini.

Lalu dia menutupnya dengan menyatakan bahwa kalau memang negara ini belum mampu membangun dengan dana sendiri alias rupiah murni dalam APBN maka sebaiknya pemerintah tidak perlu membangun infrastruktur dulu.

Katanya lagi, sebaiknya dana yang ada tetap dialokasikan untuk dana subsidi BBM, Listrik, pupuk, pendidikan, dan kesehatan untuk mengurangi beban hidup rakyat. Dengan demikian, rakyat bisa membeli kebutuhan pokok yang katanya harganya terus meningkat/mahal.

Saya mencoba menjawab pertanyaan dan pernyataan dia dengan bertanya balik kepadanya agar jawaban saya lebih rasional dan mudah dimengerti tanpa harus membuka data yang penuh angka njelimet.. hehehe.

Saya: Apakah anda tinggal di rumah sendiri?

Mhs: Alhamdulillah, rumah sendiri pak di Bekasi. (Jawabnya tegas plus senyum bangga).

Saya: Apakah anda membeli rumah anda secara tunai atau kredit?

Mhs: Kredit pak, melalui Bank ..$€£¥.. dengan tenor 20 tahun. (Maaf nama Bank saya samarkan untuk menjaga nama baik Bank tersebut).

Saya: Mengapa anda tidak membelinya secara tunai?

Mhs: Mana sanggup pak (nada suaranya agak lesu). Gaji saya cuman Rp 6,3 juta sedangkan harga rumah type 36 yang saya beli sebesar Rp275 juta pak. Ya, gak sangguplah, Pak!

Saya: Kenapa anda tidak menabung dulu sekian tahun dan setelah uangnya terkumpul Rp275 juta baru anda membeli secara tunai?

Mhs: Wadduh.!!! Berapa lama saya baru bisa punya rumah kalau harus nabung dulu pak? Nanti kalo duit tabungannya udah ngumpul Rp275 juta, harga rumahnya udah pasti gak segitu lagi. Pasti udah lebih mahal. Malah mungkin duit tabungan untuk rumahnya terpakai untuk keperluan lain...pak.

Baca Juga :
Usul Agar Masyarakat Dapat Menentukan Kemana Alokasi Dana Pajak Yang Dibayarkan
Benarkah Pelacur Lebih Terhormat ?
Anggota DPR Tidak Terima Suap

Saya: Jadi, karena anda berutang melalui KPR Bank ..$€£¥.. maka Anda bisa memiliki rumah sekarang? Lalu Anda membayar utang Anda dengan cara mencicil tiap bulan yang jumlah cicilannya Anda sesuaikan dengan kemampuan bayar Anda selama 20 tahun, begitu?

Mhs: Betul pak. Saya menyicil sebesar Rp1,2 juta sebulan dan masih ada sisanya sebesar Rp5,1 juta untuk keperluan hidup bersama 2 anak pak.

Saya: Hahahahaha...

Mhs: Kenapa Bapak tertawa? (nada bicaranya agak tinggi dan terkesan bahwa dia tersinggung).

Saya: Yak!, begitu pulalah pemerintah. Karena dana APBN terbatas padahal pemerintah harus menyediakan berbagai infrastruktur yang sangat dibutuhkan rakyat maka pemerintah harus mencari sumber pembiayaan yang lain yang salah satunya adalah utang.

Kalau pemerintah harus menabung dulu dan baru membangun setelah duitnya terkumpul maka pemerintah tidak akan pernah bisa membangun apa-apa apalagi membangun infrastruktur memerlukan dana yang cukup besar. Selain itu, jangka waktu suatu periode pemerintahan hanya berdurasi 5 tahun syukur2 bisa 2 periode atau 10 tahun.
Jadi, kapan rakyat bisa menikmati infrastruktur yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan perekonomian rakyat jika infrastruktur tidak pernah dibangun?

Anda perlu ketahui bahwa biaya logistik atau biaya produksi dapat ditekan seefisien mungkin apabila sarana penunjang/distribusi barang dan jasa bisa lebih lancar dan cepat. Seperti pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan peti kemas, dan bandara.

Efisiensi pada biaya produksi tentu saja akan meningkatkan margin atau laba perusahaan yang kemudian berimbas positif pada kenaikan upah pekerja/buruh dan kemungkinan besar perusahaan akan melakukan investasi baru yang pada gilirannya akan membuka lapangan kerja baru... dan trickel down effect lainnya.

Mhs: Oh!?... (sambil manggut manggut. Tapi saya tidak tahu arti manggut-manggutnya.

Apakah dia menerima penjelasan saya atau karena dia sudah cape menjawab pertanyaan saya).
Saya tertawa lagi dan mahasiswa saya satu kelas (37 orang) ikut tertawa. Saya melihat mahasiswa tersebut hanya tersenyum kecil sambil pura2 sibuk membuka-buka bukunya.
Ah! Seandainya engkau menjadi pegawai Kementerian Keuangan (tempat saya bekerja), tentu engkau akan memahami mengenai bagaimana mengelola pendapatan negara yang sangat terbatas untuk menutupi anggaran belanja negara yang cukup besar.

by: Adryan Theo Alexander

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Analogi sederhana untuk yang nyinyir soal utang

0 komentar:

Posting Komentar