Berbagi Informasi Penting Di Sekitar Anda

Rabu, 25 Februari 2015

Jangan Tangisi, Tetapi belajarlah dari airmataku kawan

Aku terbangun malam tadi dan teringat di masa itu, saat kami hidup dengan cuma "sekedar berharap saat bangun di pagi hari". berharap mungkin kaleng beras kami sedikit bertambah. berharap kamar kost-an kami berdua bisa seinci lebih luas tiap harinya. ibuku yang selalu membangunkanku dikamar sebelah kamar sewaan kami, berusaha membuatnya lebih baik dengan berkata " tunggu mama pulang dari tempat kerja, ada sedikit uang untukmu" smabil menyerahkan selembar uang kertas 5 ribu dan bergegas berangkat dengan sepeda motor miliknya.

terkadang pula aku harus terbangun saat orang lain terlelap, mengendap keluar kamar, lalu berjalan sejauh kurang lebih 10 km jauhnya, ke pelabuhantua kotaku.

yah masa yang sulit, saat aku harus bergelut dengan beberapa ratus kilo kapur di pundakku demi sebungkus rokok ataupun impian untuk menjadi seorang geologist handal. tak ada yang kupikirkan selain itu. "hanya tenaga yang kupunya" terus berdengung di telingaku..
kadang pula berjibaku dengan sengatan matahari sambil mengaduk se-onggok campuran semen dan pasir ataukah mengantarkan dengan santun segepok batu bata di salah satu perumahan "yang mengutamakan kenyamanan" kata mereka para ahli pemasaran. atau memamerkan suara ku yang sedikit bagus di antara mereka yang mengisi perut.

tak bisa kulupakan masa itu, menjadi gila alih-alih berbicara sendiri lalu berfantasi ria dengan gemilang segelas kopi utang seharga 1500 di sudut kampus itu . "Besok kubayar mace." kata yang sama dari senin sampai jum'at yang ku penuhi dihari setelahnya. ada sedikit senyum bisa melihat seseorang bingung dengan tugas2 mereka, tapi lebih cemburu dengan kemampuan mereka untuk tetap kuliah..


mengumpat dan mencaci kehidupan, tiap hari berada yang sama antara aku dan keinginan untuk tidak kecewa. mengasihani diriku padahal aku benci rasa kasihanku dan mereka yang "meng-kasihan" kan aku.

aku terbngun malam tadi dan teringat dimasa itu, saat kakak-kakak ku menyuapi kami dengan kasih, walaupun mereka masih sangat lemah untuk berdiri lagi. sesosok laki2 kurus, seorng lagi gemuk dan tambun, dan seorang lagi sangat cantik walaupun masih bisa bersembunyi di bawah ketiakku.

masih berpeluh menyambangi kami dan mengusap dahi kami dengan cinta yang entah kapan bisa kubalas.

tak bisa kulupakan masa itu, entah, airmata dan petikan keyboardku pun tak cukup untuk menggambarkannya.


-2009 papua,puncak jaya wijaya,riddge camp valley grassberg. memories remain- Memean

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Jangan Tangisi, Tetapi belajarlah dari airmataku kawan

0 komentar:

Posting Komentar